Rabu, 14 Januari 2015

Sejarah Mei Kartawinata

MEI KARTAWINATA



Mei Kartawinata & Sukinah 



A. Silsilah, Pendidikan dan pekerjaan

Bapak Mei kartawinata lahir di Bandung tepatnya, di Jalan Kebonjati Desa Pasar Kota Bandung, pada tanggal 1 Mei 1897. Ayahanda bernama Rd. Kartowidjojo dari Rembang yang masih memiliki garis keturunan dari Brawijaya – Madjapahit, sedangkan Ibunda bernama Nyai Rd. Mariah dari Bogor, yang masih memiliki Garis keturunan dari Pangeran Sake/Bogor dan Pangeran Sugeri/Jatinegara (Siliwangi – Padjajaran).


Mei Kartawinata sempat bersekolah di Sekolah Kristen PADRI dimana di sekolah tersebut terdapat Zendingschool yang dipimpin oleh Ruitink, Borat dan Iken, selain bersekolah Mei juga mengikuti kursus di Kleine Ambtenaar Exament (KE). 

Setelah tamat sekolah, pada tahun 1914 beliau bekerja di perusahaan percetakan (Drukkerij) di Bandung sambil sore harinya sekolah di Sekolah Partikelir. Pada tahun 1922, Mei Kartawinata memasuki dan aktif di organisasi perburuhan IDB (Indische Drukkerij Bond), sebuah organisasi yang aktif memperjuangkan nasib kesejahteraan kaum buruh dan seterusnya mengikuti gerakan-gerakan politik kebangsaan dan perjuangan kemerdekaan. 


Selanjutnya Mei pindah ke Cirebon dan bekerja di percetakan "De Boer", sambil tetap aktif di perjuangan buruh dan gerakan perjuangan kemerdekaan. Beliau bertempat tinggal di lingkungan Keraton Kanoman dan tinggal di rumah Elang Otong.


Menginjak usia 25 tahun, tepatnya pada tahun 1922 itu juga, Mei Kartawinata menikahi seorang gadis asal Kampung Padamenak, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan - Jawa Barat, yang bernama Sukinah anak dari Perwatadisastra yang ketika itu bekerja di BAT (British American Tabacco) Cirebon. Berhubung mertuanya tidak menyetujui putrinya bersuamikan orang yang aktif di pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan, dan Belanda sudah mencium gerakan Mei Kartawinata, maka Mei Kartawinata terpaksa membawa istrinya dari Cirebon dan pindah ke Sukamandi mengikuti ibu kandungnya Nyai Rd. Mariah dan kakaknya seibu Rd. Kartaatmadja. 

Mei bekerja di Pabrik Tapioka Sukamandi, bagian listrik dengan tujuan menghindarkan diri dari incaran Belanda, dan selama di Sukamandi, Mei Kartawinata bersama istrinya dan rekan-rekan seperjuangan aktif keluar-masuk kampung-kampung menyebarkan paham kebangsaan melalui anjang sono dan pertunjukan sandiwara, hingga pada tahun 1925 Belanda mencium adanya gerakan nasionalisme kebangsaan di Sukamandi dan melakukan penangkapan-penangkapan, hingga Rd. Kartaatmadja yang mengaku sebagai Mei Kartawinata (untuk melindungi Mei Kartawinata) ditangkap, disiksa dan dijebloskan ke Penjara di Purwakarta, kemudian dipindahkan ke Balikpapan-Kaltim, selanjutnya ke Nusakambangan.


Sejak itu kondisi keamanan bagi Mei Kartawinata jadi berbahaya, sehingga harus berpindah-pindah tempat, dan setelah ibundanya meninggal dan dimakamkan di Sukamandi, dengan bantuan seseorang bernama Ganda, Mei Kartawinata bersama istrinya pindah ke kota Subang dan bekerja sebagai "letterzetter" di perusahaan percetakan Atelir-Subang (P&T Land) milik kongsi Amerika-Inggris. Setelah bekerja di Atelir, selanjutnya Mei mengajak teman lamanya M. Rasid dari Cirebon untuk bekerja bersama, hingga pada suatu waktu keduanya berkenalan dengan seseorang bernama Soemitra, yang kemudian ketiganya terjalin persahabatan.



B. Tiga Serangkai (Tri Tunggal)

Ketika di Subang ini, Mei Kartawinata bersahabat dengan dua rekan sejawatnya, yaitu Rasid yang berasal dari Cirebon dan Soemitra yang berasal dari Bandung. Seiring berjalannya waktu persahabatan ketiga orang ini semakin erat, terlebih lagi setelah ketiga orang ini sama-sama memiliki ketertarikan dalam ilmu kebatinan. Manakala waktu senggang ketiganya sering bertemu dan berdiskusi saling bertukar pikiran membahas kegemarannya dalam ilmu kebatinan. Karena persahabatannya itu, ketiga orang ini selanjutnya (oleh pengikut Bapak Mei Kartawinata) sering disebut sebagai “Tri Tunggal“.



C. Perselisihan berujung renungan

Pertemuan diskusi dan bertukar pikiran membahas ilmu kebatinan itu akhirnya menjadi kegiatan rutin bagi mereka bertiga. Hingga suatu saat kebiasaan itu berakhir tidak seperti biasanya, seolah-olah hari itu adalah puncak dari pencarian makna dan arti dari ilmu kebatinan bagi mereka bertiga, terutama bagi Mei Kartawinata.

Saat itu, tanggal 16 September 1927 tepatnya hari kamis malam Jum’at kliwon, di sebuah rumah pinggiran hutan, milik Pak Unas ketiganya berdiskusi seperti biasa, hanya saja saat itu istri Mei Kartawinata dan putri pertamanya Mariam yang masih berumur 40 hari turut berkumpul di rumah itu.

Semakin malam Pertemuan ketiga sahabat itu tidak seperti biasanya, yaitu ketika Rasid hendak “memberikan“ ilmu Kanuragan (salah satu ilmu kekebalan tubuh untuk menjaga diri) kepada Mei Kartawinata. Namun sayang “gayung tak bersambut“, niat baik Rasid itu ditolak oleh Mei Kartawinata dengan santun, dan mengatakan bahwa “keselamatan diri tidak harus dengan memiliki ilmu kanuragan tapi keselamatan itu tergantung dari tekad-ucap dan lampahnya sendiri“. Mendengar ucapan seperti itu Rasid semakin penasaran dan terpacu ingin mengetahui ilmu apa gerangan sesungguhnya yang dimiliki oleh Mei Kartawinata.

Rasa penasaran itu pun akhirnya dilakukan oleh Rasid dengan cara menggendong Mariam lalu tanpa ragu diinjaknya bahkan sedikit dilemparkan, hingga akhirnya bayi itu pingsan tak berdaya bahkan nyaris menemui ajalnya. Menyaksikan peristiwa itu Sukinah hanya bisa menangis, sementara Mei Kartawinata tak berbuat apa-apa hanya berusaha menahan emosi dan berserah diri, terdiam tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, namun kemudian Mei Kartawinata mengais putri pertama yang baru berusia 40 hari itu lalu diletakan kembali disisi lainnya dan kemudian duduk bersila untuk berdo’a. 

Setelah beberapa saat diraihnya bayi perempuan itu lalu mengusap dan meniup-niup ubun-ubunnya, dan tak ada yang menyangka beberapa saat kemudian bayi itu lalu menangis dan perlahan mulai sadar kembali. Itulah bukti Kuasa, perlindungan dan kasih sayang Tuhan YME kepada mahluk-Nya.


Namun prilaku Rasid dalam menguji kesabaran Mei Kartawinata tidak cukup sampai disana, kejadian demi kejadian terus berlangsung meskipun tidak sampai terjadi perkelahian, namun akhirnya ketiganya kelelahan dan ketiganya pula saling meredakan situasi. Seiring dengan larutnya malam, semua orang yang ada di rumah Pak Unas itu akhirnya tertidur, dan menjelang pukul 00.00 WIB tengah malam, sukinah sempat tersadarkan dari tidur dan terkejut ketika melihat seberkas sinar terang yang menyoroti tubuh Mei Kartawinata suaminya itu yang sedang tertidur lelap, peristiwa itu berlangsung singkat sekali, namun tanpa diduga ternyata Rasid dan Soemitra pun sempat melihat peristiwa itu.

Setelah beberapa saat peristiwa itu berlangsung, ternyata rasa penasaran Rasid semakin menjadi dan kini ditambah dengan perasaan kesal terhadap Mei Kartawinata. Pertikaian pun berlanjut kembali, hingga mendekati pukul 03.00 WIB akhirnya Mei Kartawinata menghindar berlari menuju hutan dan terus dikejar oleh Rasid dan Sumitra, akhirnya terpaksa Sukinah pun turut mengikuti ketiganya sambil mengendong bayinya karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.

Dan benar saja pertikaian demi pertikaian terjadi di beberapa tempat di hutan itu, namun Mei Kartawinata tetap saja menghindar dan beberapa kali berlari menjauhi Rasid dan Soemitra yang turut menguji kesabaran sahabatnya itu. Hingga saat tengah hari Mei Kartawinata berhasil lari menjauhi kedua sahabatnya itu dan bersembunyi di sisi Sungai Cileuleuy kampung Cimerta yang berada di wilayah Subang. Ketika menenangkan diri dan beristirahat itulah Mei Kartawinata menatap dalam aliran air Sungai Cileuleuy. Dari tatapan mata yang dalam akhirnya menukik kedalam hati sanubarinya dan saat itulah Mei Kartawinata dikejutkan oleh “Suara pitutur“, yang kemudian dikenal dengan istilah “Wangsit“.



D. Wangsit 17 September 1927

Lantas apa isi wangsit atau suara pitutur itu ?, hanya Mei Kartawinata sendiri lah yang tahu persis isi atau bunyi dari wangsit tersebut. Namun dari beberapa buku karya tulis beliau, ada satu buku yang berjudul KATINEUNG, yang di dalamnya memuat ulasan tentang peristiwa 17 September 1927 di tepi Sungai Cileuleuy yang disampaikan dalam bentuk PUPUH, yang merupakan kemahiran dan kecerdasan beliau dalam menyampaikan didikannya (pamendak) kepada para pengikutnya itu.

Berikut isi kutipan pupuh yang diambil dari Buku KATINEUNG karya Mei Kartawinata :



PUPUH ASMARANDANA

1. Matak kasamaran pikir
Lamun teu sabar tawekal
Dibarengan gede hate
Ngalakonan perjalanan
Ku lobana halangan
Pikeun Ngangkat jeung ngajungjung
Darajat Bangsa sorangan

2.Tapi mungguh Maha Suci
Dina masihan lantaran
Sakitu kuring teh bodo
Asa gampang ngahartina
Ma’lum kabeh geus aya
Aya di badan sakujur
Terang nyata ku wujud-Na


3. Tanggal HIJI bulan MEI
Poena dina JUMA’AH
Ninggang pasaran KALIWON
Ngitung masehi TAUNna
SAREBU jeung DALAPAN RATUS
Jeung SALAPAN PULUH
TUJUH lalangkungannana


4. Sim-kuring ka dunya lahir
Kitu saur Indung-Bapa
Nu nyaksian lahir batin
Nu wajib dipercayana
Ku sim-kuring sorangan
Tur wajib dipanjang-punjung
Ti dunya tug ka aherat


5. MEI teh pangeling-ngeling
Tanggal bulan kalahiran
Ari tugas anu tangtos
Nyaeta KARTA WINATA
Ngartakeun ku winata
Nepikeun ka hasil maksud
Hasil tina perjalanan


6. Ti PURWA-KARTA mimiti
KARTA di jaman baheula
BANDUNG anu jadi hate
Ngabandungan nu Kawasa
Rasa anu nyaksian
Ayana Gusti Nu Wujud
Nu wajib di-pangeranan


7. KEBON JATINA pamanggih
Nu nyata ku perjalanan
Melak hade, buah hade
Ku MAHA asal purwana
Nya temen tinemenan
Buktina ari geus wujud
Ku sim-kuring kalakonan


8. JUMA’AH poe nu suci
Kaliwon pasarannana
Tanggal timbul aya hate
TUJUH welas ka sasama
SEPTEMBER sasih salapan
Tedak Wali-Maha Agung
Salapan etangannana


9. TAUN anu ka-pi-eling
SAREBU sareng SALAPAN
RATUS punjulna sayaktos
DUA PULUH TUJUH nyata
Di SUBANG – PURWAKARTA
CIMERTA nya ngaran kampung
CILEULEUY ngaran walungan


10. Tengah poe sisi cai
Caang padang narawangan
Aneh make aya hate
Cai di-itung lobana
Dibarung kaheranan
Mikiran cai ti gunung
Asalna ngan sing kareclak


11. Tapi palidna kahilir
Sakur anu kaliwatan
Boh sawah atawa kebon
Walatra kabaragian
Tapi teu saat saat ?
Malah samemeh ka laut
Cai anggur ngagedean


12. Kersana Nu Maha Suci
Ku sim-kuring dipikiran
Kapikir asa nu gelo
Kadenge aya sowara
Tapi taya jalmana
Ka kuring mere pitutur
PURWA karta NUSA nyata


13. Karta TENGTREM hate kuring
Ulah sok make itungan
Lamun arek mere maweh
CILEULEUY kudu turutan
CI cai kahirupan
Teu eureun-eureun tutulung
Sapanjangna perjalanan


14. Kamurahan Maha Suci
Saestu taya surudna
Ka nu goreng jeung nu hade
Tanggungan sewang-sewangan
Sing LEULEUY migawena
Ulah kaburu ku napsu
Matak goreng balukarna


15. CIMERTA mertakeun diri
Kahirupan katentreman
SUBANG ge nya kitu keneh
Ngandung harti teu lumayan
SU teh HADE maksudna
BANG nurutkeun galur karuhun
BANGSA pihartieunnana


16. Ari TAUN ngandung harti
Pranatan atawa tata
HIJI nya GUSTI Hyang Manon
SALAPAN Wali-Gustina
DUA kecap tatandingan
Goreng hade, handap luhur
Nu lumrah di alam dunya


17. TUJUH tujuan sing pasti
Kitu harti eta angka
1, 9, 2 teh
Angka 7 panutupna
Ngajadi perjalanan
Sapanjang aya umur
Perjalanan acan tamat



E. Kegiatan (sepak terjang) MEI KARTAWINATA

Setelah peristiwa 17 September 1927 di sisi Sungai Cileuleuy itu, Mei Kartawinata semakin disadarkan tentang makna dan tugas dari seorang manusia. Hubungan Mei Kartawinata dengan 2 sahabat karibnya, Rasid dan Soemitra, justru semakin erat dan akhirnya diantara ketiganya berikrar untuk saling mengakui sebagai satu saudara. Dan karena itu pulalah muncul istilah “tri tunggal“, dan sebagai bentuk penghormatan kepada ketiga tokoh ini, biasanya pengikut dari Mei Kartawinata memberi sebutan “Mama Karta – Mama Rasid dan Mama Soemitra“.

Sejak peristiwa 17 September 1927 di Cileuleuy - Subang Jawa Barat, perjalanan spiritual Mei Kartawinata semakin mendapat pencerahan, bukan saja pencerahan tentang memaknai ilmu kebatinan saja, tetapi menumbuhkan dan akhirnya makin membangkitkan semangat jiwa nasionalis dan patroitisme pada diri Beliau.

Paham dan semangatnya itu, beliau sebarkan di berbagai wilayah Pulau Jawa. Mei Kartawinata sangat menyadari pentingnya menumbuhkan semangat kebangsaan dan jiwa patriotisme di kalangan masyarakat, karena saat itu Negara kita masih dibawah cengkraman bangsa penjajah.

Beliau sangat aktif dan lantang dalam menyuarakan kemerdekaan dan menentang aturan-aturan yang dibuat oleh bangsa penjajah yang terkenal kejam dan licik. Berbagai pergerakan beliau lakukan di berbagai wilayah pada masa-masa pengungsian dan masa gerilya. Dengan sepak terjang Mei Kartawinata seperti itu, membuat bangsa penjajah geram, hingga beliau masuk dalam daftar salah satu orang yang paling dicari. Menurut beberapa catatan yang ada, Mei Kartawinata sempat merasakan hidup di bui, karena dianggap membahayakan dan merugikan kepentingan Bangsa Penjajah. Pada tahun 1937 ditahan di Bandung, kemudian di tahun 1942, saat penjajahan Jepang dipenjarakan selama 2 bulan di tahanan DAINYI Cigereleng (pinggiran Bandung selatan), lalu dipindahkan ke penjara Banceuy dan mendekam selama 2 bulan. Beberapa waktu kemudian masih pada tahun 1942 Mei Kartawinata ditangkap lagi dan dijebloskan ke Penjara Sukamiskin untuk menjalani vonis selama 2 tahun, namun baru mendekam 3 bulan sudah dibebaskan, karena didesak seluruh warga ajaran Mei Kartawinata dari Jawa Barat. 

Pada tahun 1946 ketika di Solo Mei Kartawinata diambil aparat keamanan dan dipenjarakan di Cirebon kemudian dipindah ke kota Yogyakarta.Setelah dibebaskan di Yogyakarta. Setelah dibebaskan di Yogyakarta, Mei Kartawinata dipanggil presiden Soekarno dan meminta agar Mei Kartawinata meneruskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI, dan untuk memenuhi permintaan Bung Karno, selanjutnya Mei Kartawinata membentuk pasukan Gerilya MACAN PUTIH yang pergerakannya berpusat di Gunung Wilis, Tulungagung.

Pada tahun 1950 ketika di Jakarta, Mei Kartawinata ditangkap di Matraman oleh Tentara Kala Hitam, karena dituduh terlibat Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dan mendekam selama 3 bulan di Penjara Glodok, Jakarta.

Pada masa-masa pergerakan itulah, menurut beberapa saksi hidup, Mei Kartawinata menjalin hubungan dengan Ir. Soekarno. Jalinan hubungan mereka berdua lebih kepada diskusi dan saling bertukar pikiran dalam rangka menentukan nasib Bangsa dan merumuskan ide serta konsep Dasar Negara, yang kemudian dikenal dengan PANCASILA. Sekalipun rumusan pemikiran Mei Kartawinata tentang Pancasila tidak pernah muncul pada lembar sejarah bangsa, namun kenyataannya nilai-nilai dan Konsepsi tentang Pancasila jelas-jelas sudah Mei Kartawinata tuangkan dalam buku-buku karyanya, yang beliau tulis dan cetak jauh sebelum tahun 1945, sebelum Indonesia Merdeka. 

Selain dikenal sebagai tokoh Kebatinan, Mei Kartawinata juga aktif dalam berbagai kegiatan seni, kebudayaan dan politik kebangsaan yang berlandaskan Pancasila, diantaranya :

1. Sebagai Dewan Penasehat Pusat Gerakan Latihan Penca Seluruh Jawa dan Madura pada masa akhir pendudukan Jepang, yaitu awal tahun 1945, yang beralamat seketariat di Jl. Gambir Barat No.7 Jakarta. 

2. Tokoh penggerak Badan Pembantoe Keamanan Oemeom (BPKO) pada masa pendudukan Jepang. Mendirikan Mendirikan Perhimpunan Rakyat Indonesia Kemanusia’an (PRI KEMANUSIAAN). 

3. Bersama-sama JB. Assa, Mr. Iwa Koeseomasumantri, Ir. Lobo, SK Werdojo mendirikan partai politik PERMAI (Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia). 


Mr Iwa Koeseomasumantri

Mei Kartawinata & Ir. Lobo

SK Werdojo

4. Bersama Mr. Wongsonagoro memprakarsai pembentukan BKKI (Badan Kongres Kebatinan Indonesia), dan duduk sebagai anggota Presidium dan selanjutnya menjadi Dewan Penasehat.




5. Ikut memprakarsai dibentuknya PEPADI (Peguyuban Padalangan Indonesia) bersama Mr. Wongsonagoro.

6. Salah seorang yang memperjuangkan perkawinan penghayat yang dinamakan PAPENA (Panitia Perkawinan Nasional), namun selanjutnya sejak jaman orde baru lembaga ini tidak difungsikan.


Di masa-masa terakhir, Mei Kartawinata menghabiskan waktunya di Jl. Sukasirna-Cicadas, Bandung dan saat usianya menginjak 70 tahun, beliau meninggal dunia, tepatnya tanggal 11 Pebruari 1967 dan dikebumikan di Karangpawitan Desa Pakutandang Ciparay Kabupaten Bandung. Tempat dikebumikannya (pasarean) beliau itu adalah tempat bekas kamar tidurnya, ketika Mei Kartawinata sempat tinggal di wilayah tersebut. 


Pasarean Mama Mei Kartawinata - Ciparay (2014)



Sumber:

1) Drs. Adjum Djunaedi, "Riwayat Hidup Bapak Mei Kartawinata"

2) Catatan Yusuf Kartawinata

3) Buku Boedi Daja

4 komentar:

  1. Sangat inspiratif. Ada pahlawan tersembunyi yang tentunya Tuhan memberikan berkat melimpah kepadanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pahlawan sejati tdak akan pamrih..kehormatan atau jabatan...tapi kita sebagai generasi penerusNYA,wajib berterimakasih dan memberikan penghormatan,diantaranya dengan melaksanakan buah fikiran beliau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara...
      CAGEUR BAGEUR BENER PINTER...rahayu..

      Hapus