Rabu, 14 Januari 2015

Agama Milik Siapa





Oleh : Engkus Ruswana

Sampurasun!

Istilah atau kata AGAMA adalah murni milik leluhur kita yang berasal dari bahasa Kawi (Sunda/Jawa Kuno..... ketika itu belum ada pemisahan Jawa-Sunda), yang berasal dari kata (ha = Kang Hana = Gusti/Tuhan dan gama=tatanan/patokan, jadi artinya agama adalah Tatanan dan patokan Hyang Maha Kersa/Gusti/Tuhan, yang dimaksudkan untuk menamai sistem kepercayaan/ketuhanan yang ada dalam masyarakat Nusantara. Jadi tidak pake embel-embel "merk". 




Penamaan hanya didasarkan nama kawasan/wilayah adat atau suku, seperti Agama Sunda Wiwitan, Agama Jawa, Ugomo Malim (di tanah Batak), Agama Kaharingan (Dayak), Agama Marapu (pada suku Marapu), Agama Watutelu (suku Lombok), Agama Talotang (Sulawesi Selatan) dan lain-lain. Sedangkan untuk sistem tatanan kemasyarakatan disebut DRIGAMA (berasal dari kata driya-gama). Istilah lainnya yang terkait, seperti PARIGAMA (tatanan untuk keutamaan); ADIGAMA (Tatanan Adiluhung), TUHAGAMA (tatanan untuk kepangkatan), GURUGAMA (tatanan untuk pengajaran), KRETAGAMA (tatanan untuk kesejahteraan ....inget jaman Majapahit terkenal dengan NAGARA KRETAGAMA; ASMARAGAMA (tatanan untuk perkara asmara)...... 


Nah, kemudian pada waktu Hindu datang disebutlah agama Hindu, Budha datang disebutlah agama Budha, kemudian Islam, Kristen, Katholik ..... dst. 


Leluhur kita sudah sangat tinggi pendalamannya tehadap agama, sehingga kedatangan agama-agama luar ke Nusantara diterima dengan baik, bahkan diberi tempat dan dibantu kebutuhan sarana pengembangannya, dan untuk menjaga harmoni (karena leluhur bangsa kita tidak suka konflik) maka nilai-nilai kebaikan dari agama yang datang diserap, sehingga muncul istilah SINKRETISME. 


Pada masa Hindu dan Budha masuk ke Nusantara tidak ada konflik agama, begitupun dengan Islam (seperti yang sekarang dianut NU), Namun ketika paham agama dibaurkan dengan politik dan kekuasaan, maka muncul dan berkembang paham ekstrim dan akhirnya ada usaha untuk mendominasi dan menguasai, sehingga sejak itu mulai ada konflik dan ada penindasan/penyerangan terhadap penganut agama diluar Islam (dalam sejarah tercatat Prabu Brawijaya diserang Demak), sehingga Majapahit runtuh dan Raja Brawijaya V terusir dan mengasingkan diri ke gunung. 


Di Pasundan, kerajaan Galuh diserang Kesultanan Cirebon dibantu Demak, Kerajaan Pajajaran dihacurkan Kesultanan Banten dibantu Cirebon dan Demak, sehingga penganut agama leluhur terusir atau mengasingkan diri, yang sekarang menjadi kampung-kampung adat, seperti Tengger, Baduy, Kampung Naga dsb. 


Tidak semua penganut ajaran leluhur mengasingkan diri, banyak juga yang bertahan dan berada di wilayah kekuasaan kesultanan Islam, dengan cara mengaku pemeluk Islam, tapi tetap menjalankan ajaran leluhur secara sembunyi-sembunyi, karena tidak bisa mengajarkan agama leluhur secara terbuka akibat adanya intimidasi/tekanan bahkan membahayakan keselamatan dirinya, sehingga pengajaran agama leluhur menjadi tidak utuh dan terpecah-pecah tidak bisa bersatu, dan menjadi kelompok-kelompok kecil yang belakangan oleh Clifford Gerzt kelompok-kelompok ini disebut sebagai kaum Islam Abangan, dengan pemahaman dan materi ajaran terhadap agama leluhurnya sudah tidak lagi seutuhnya serta ada sedikit perbedaan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.


Pada waktu kesultanan-kesultanan Islam berkuasa, maka istilah-istilah keagamaan asli Nusantara digunakan dan digunakan mereka, seperti: istilah Agama, Santri dan pesantrian/pesantren, Kiyai, Ajengan, Sunan (Suhunan), Sembah-Hyang, Wahyu, Ajengan, Sawaga, Naraka, Pengajian dsb, yang kemudian penganut agama leluhur secara tidak langsung tidak boleh lagi menggunakannya yang hingga kini jaman pemerintahan Republik terus diberlakukan. 


Kelompok-kelompok abangan ini termasuk penganut agama-agama leluhur, pada jaman Indonesia Merdeka kemudian diistilahkan sebagai kelompok aliran-aliran kebatinan/kejiwaan/kerokhanian, dan kini disebut sebagai aliran kepercayaan atau komunitas Kepercayaan terhadap Tuhan YME, yang pada masa-masa awal kemerdekaan oleh masing-masing sesepuh/penggali ajarannya dibentuk semacam paguyuban atau organisasi dan diberi nama, seperti: Saptodarmo, Kapribaden, Ngudi Utomo, Purnomosidhi, Sedulur Sikep, Sumarah, Kawruh Sedulur Sejati, Ngudi Utomo, Ajisaka, Sari budaya, Perjalanan, Budi Daya, Parmalim...dan ratusan nama paguyuban lainnya.


Cag. Rampes.


Rahayu!




2 komentar: